Afwan kak Yusuf, saya tidak bisa membantu kakak....
Itulah sebaris sms yang dikirimkan Alifia ke Yusuf, pemuda dikampusnya yang akhir-akhir ini sering dilamunkannya.
Alifia Rahmadani, seorang mahasiswa semester 7 jurusan ilmu komunikasi sedangkan Yusuf, lengkapnya Yusuf Amirullah, adalah teman sekelasnya yang kini menjadi ketua UKKI dikampusnya. Siapa yang tak kenal Yusuf, pemuda itu sangat mahsyur di kalangan kampus, mulai dari rektor, dosen, staff, senior, yunior....semuanya mengenal Yusuf. Yusuf sudah rampung memprogram seluruh mata kuliah sesuai SKS kampus, jadi semester ini ia hanya memprogram skripsi saja. Sebagai kawan baik Yusuf, Alifia tentu merasa bangga berkawan dengan pemuda yang begitu pintar, rendah hati, baik hati, dan shaleh. Namun, semakin hari perasaan aneh begitu semakin terasa jikalau ia dekat dengan Yusuf.
“Rindu?!! Lif, bahkan tidak ada seorang manusiapun didunia ini yang berhak melarang kita untuk rindu pada seseorang..” tukas Fitria, teman akrab Alifia, dengan raut serius.
“Tapi Fit, sepertinya kak Yusuf tidak punya perasaan yang sama denganku, aku tidak begitu spesial untuknya...tentu saja, aku malu jika harus mempertahankan perasaanku ini....” Alifia meneteskan air matanya.
“Sudah jangan bersedih...La Tahzan....Innallaha ma’ana....”
“Jazakillah Khair...” lalu Fitria memeluk sahabatnya itu. Sambil berfikir, apa yang ada dikepala kak Yusuf, dia tak kunjung menyatakan perasaannya pada Alifia, ataukah kak Yusuf malu?, sebab dia adalah pemuda UKKI, seperti yang banyak orang tahu, pemuda UKKI tidak mungkin mempunyai pacar. Tapi tentunya, Alifia yang berjilbab itu paham dan tidak menghendaki yang namanya pacaran pula.
“Pacaran itu tidak ada dalam Al-Qur’an, sedangkan petunjuk hidup kita adalah Al-Qur’an dan Hadist..” jawab Yusuf dalam majelis KAJUMPA, pengajian rutin setiap jum’at pagi bersama junior, di mushala jurusan 2 minggu yang lalu. Waktu itu ada junior yang bertanya tentang pacaran.
“Lalu bagaimana cara kita mengungkapkan perasaan kita kepada orang yang kita sayangi?, apa harus dipendam kak?, bukankah itu dapat menyebabkan penyakit hati?“ tanya Alifia, yang juga hadir dalam pengajian, dari bilik akhwat putri. Yusuf tersenyum, tak berdaya untuk menjawabnya, seperti terjadi getaran yang sangat hebat dalam relung hatinya. Bahkan, ia menarik nafas dalam-dalam dahulu sebelum menjawab pertanyaan Alifia.
“Tentu saja perasaan seperti itu fitrah...bahkan itu merupakan anugerah dari Allah SWT. Namun, sesuatu yang fitrah itu, harus tetap disikapi dengan perilaku yang fitrah juga, mengungkapkannya pun harus dengan cara yang fitrah.....tidak perlu dengan berkata langsung, cukup curhat dengan Sang pemilik hati, Allah Subhanahu wata'ala, insyaAllah perasaan kalian akan tetap terjaga...” Yusuf mengamini ucapannya.
Dan maksud dari sms itu, adalah karena Alifia merasa sedih atas pengunduran diri Yusuf dari ketua UKKI. Dua hari sebelumnya, Alifia mendengar cerita dari Nana, adik kelasnya, tentang hubungan Yusuf dan Dilla, Adilla Paradissa, yang tak lain adalah teman seangkatannya, tetapi beda kelas. Cerita tentang mereka pun juga sudah terdengar oleh Fitria.
“Jadi semua orang tahu? Hanya aku yang belum tahu?!, Astaghfirullah, apa maksud kak Yusuf memproklamirkan hubungannya kepada khayalak ” Alifia meratap dengan tutur halusnya.
“Jangan su’udzon dulu Lif....mungkin itu cuma fitnah.. mana mungkin kak Yusuf melakukan itu....” ucap Fitria menenangkan sahabatnya.
“Sebaiknya, kamu pastikan dulu berita itu, tanyakan pada kak Yusuf langsung, bukankah ia masih menjadi sahabatmu?, aku yakin, kamu tidak ingin melihat sahabatmu difitnah bukan?”
Di Bilik Mushalla bagian dalam, tempat konsultasi antara akhwat putri dengan ustadz UKKI, pukul 4 sore. Alifia memutuskan untuk berbicara kepada Yusuf tentang berita yang ia dengar tadi siang. Keduanya dipisahkan oleh sekat pemisah yang terbuat dari selambu gelap.
“Jadi benar Kak Yusuf berpacaran dengan Dilla? Atau itu semua hanya fitnah?” tanya Alifia pelan. Yusuf tersenyum, ia tertunduk dan memulai ceritanya.
“Begini ceritanya Lif, sejak mengenal Dila, beberapa bulan yang lalu, saya memang menaruh hati padanya. Dia begitu anggun dan bersahaja. Dia telah mencuri hati saya....”
Dada Alifia sesak, mendengar kejujuran pujaannya, namun, ia mencoba bersikap biasa saja, menahan rasa.
“Lalu, saya mencoba mendekatinya, memberi perhatian-perhatian kecil, namun, tetap tahu batas-batasnya....Alhamdulillah, dia merespon saya, kami akhirnya berteman dekat....tentunya, saya sangat senang sekali...namun, saya tetap minta kepadanya untuk merahasiakan hal ini, demi agama dan tanggung jawab saya sebagai ketua UKKI ..”
“Tapi seiring berjalannya waktu, Adilla berkata jujur kepada saya, rupanya ia masih berharap kepada mantan kekasihnya yang akan datang melamarnya....Akhirnya, saya mundur, saya memutuskan untuk menjauh darinya....”
“Lalu mengapa beritanya sampai melebar seperti itu kak?” tanya Alifia keheranan
“Mungkin, ada yang tidak menyukai saya, dan mencoba memfitnah saya, saya pasrah Lif....” suara Yusuf lemah, sedih.
"Lantas kenapa Kak Yusuf tidak memperjuangkan dia kalau memang benar-benar cinta?" Alifia bingung menata perasaannya yang penuh emosi. Yusuf terheran-heran dengan tingkah lakunya.
"Lif, saya sudah menemui orang tua Dilla langsung dan berniat melamar, namun orang tuanya serta merta menolak. Jawaban yang sama dari Dilla beberapa hari kemudian. Lalu, apakah saya harus tetap maju tanpa rasa malu? Saya pun masih punya harga diri Lif!" Yusuf menjelaskan semuanya, dengan kalimat yang lembut. Alifia memandangnya sekilas, kemudian pamit duluan karena telah kehabisan kata-kata, mau membalas penjelasan Yusuf dengan pertanyaan apa lagi?
Sore itu, perbincangan keduanya hanya sampai disitu. Namun, Alifia tak ingin semua berakhir begitu saja. Tidak masalah jika sampai kapan pun Yusuf tak memahami perasaannya, tetapi ia bertekad untuk memperjuangkan nasib pemuda itu, agar dibersihkan namanya, dari fitnah yang kejam.
Esoknya, Yusuf memutuskan untuk mengundurkan diri dari ketua UKKI, dewan pengurus UKKI pun menerima pernyataan pengundurannya. Mendengar berita itu, air mata Alifia menetes pilu. Kawan kebanggaannya dibuat malu didepan khayalak. Sungguh terkutuk pembuat fintah itu!!, Astaghfirullah.
Dua hari kemudian, setelah kuliah selesai, Alifia buru-buru meninggalkan kampus, seperti ada urusan penting.
“Maafkan saya ukh.....saya tidak bermaksud buruk kepada kak Yusuf....saya sangat menghargai dan menghormatinya, namun, memang benar jika saya tidak bisa menerimanya lebih dari sekedar teman...” Adilla menunduk didepan Alifia. Mereka mengatur janji untuk bertemu di cafe belakang kampus.
“Lalu siapa yang menyebarkan berita itu?, apa anti tidak kasihan pada kak Yusuf sekarang?, dia menanggung malu.....mohon kejujurannya....” Alifia memelas dengan raut sedih.
“Saya sahabatnya, saya percaya pada kak Yusuf, dia mungkin seperti itu, menyebarkan fitnah atas dirinya sendiri” Adilla terdiam, ia merasa iba pada tatapan melas Alifia.
“Maafkan saya....Sesungguhnya, saya sendiri yang menyebarkan fitnah itu.......” ucap Adilla pelan.
“Astaghfirullah...” seru Alifia terkejut.
“Waktu itu, kak Yusuf pernah mengirim puisi islami lewat sms kepada saya, dan tanpa disengaja sms itu terbaca oleh teman-teman saya, karena waktu itu handphone saya dipinjam oleh teman-teman....lalu teman-teman menyangka kalau saya berpacaran dengan kak Yusuf, padahal itu tidak benar, teman-teman tidak percaya dan akhirnya menyebarkan gosip itu.....”
“Saya tahu, pasti kak Yusuf benci kepada saya sekarang, mohon disampaikan permintaan maaf saya pada kak Yusuf, Alifia...”
Alifia pulang dengan tenang, ia sudah membuat persetujuan dengan Adilla untuk menemui dewan pengurus UKKI besok pagi, menceritakan kejadian yang sebenarnya. “Alhamdulillah” Ucap Alifia dalam hati. Tanpa tahu, jika sedari tadi Yusuf mengikuti dan mengawasinya, tentunya atas pemberitahuan Fitria. Senyum simpul terukir di wajah Yusuf, sekarang ia tahu, siapa yang memang benar-benar pantas untuknya.
Itulah sebaris sms yang dikirimkan Alifia ke Yusuf, pemuda dikampusnya yang akhir-akhir ini sering dilamunkannya.
Alifia Rahmadani, seorang mahasiswa semester 7 jurusan ilmu komunikasi sedangkan Yusuf, lengkapnya Yusuf Amirullah, adalah teman sekelasnya yang kini menjadi ketua UKKI dikampusnya. Siapa yang tak kenal Yusuf, pemuda itu sangat mahsyur di kalangan kampus, mulai dari rektor, dosen, staff, senior, yunior....semuanya mengenal Yusuf. Yusuf sudah rampung memprogram seluruh mata kuliah sesuai SKS kampus, jadi semester ini ia hanya memprogram skripsi saja. Sebagai kawan baik Yusuf, Alifia tentu merasa bangga berkawan dengan pemuda yang begitu pintar, rendah hati, baik hati, dan shaleh. Namun, semakin hari perasaan aneh begitu semakin terasa jikalau ia dekat dengan Yusuf.
“Rindu?!! Lif, bahkan tidak ada seorang manusiapun didunia ini yang berhak melarang kita untuk rindu pada seseorang..” tukas Fitria, teman akrab Alifia, dengan raut serius.
“Tapi Fit, sepertinya kak Yusuf tidak punya perasaan yang sama denganku, aku tidak begitu spesial untuknya...tentu saja, aku malu jika harus mempertahankan perasaanku ini....” Alifia meneteskan air matanya.
“Sudah jangan bersedih...La Tahzan....Innallaha ma’ana....”
“Jazakillah Khair...” lalu Fitria memeluk sahabatnya itu. Sambil berfikir, apa yang ada dikepala kak Yusuf, dia tak kunjung menyatakan perasaannya pada Alifia, ataukah kak Yusuf malu?, sebab dia adalah pemuda UKKI, seperti yang banyak orang tahu, pemuda UKKI tidak mungkin mempunyai pacar. Tapi tentunya, Alifia yang berjilbab itu paham dan tidak menghendaki yang namanya pacaran pula.
“Pacaran itu tidak ada dalam Al-Qur’an, sedangkan petunjuk hidup kita adalah Al-Qur’an dan Hadist..” jawab Yusuf dalam majelis KAJUMPA, pengajian rutin setiap jum’at pagi bersama junior, di mushala jurusan 2 minggu yang lalu. Waktu itu ada junior yang bertanya tentang pacaran.
“Lalu bagaimana cara kita mengungkapkan perasaan kita kepada orang yang kita sayangi?, apa harus dipendam kak?, bukankah itu dapat menyebabkan penyakit hati?“ tanya Alifia, yang juga hadir dalam pengajian, dari bilik akhwat putri. Yusuf tersenyum, tak berdaya untuk menjawabnya, seperti terjadi getaran yang sangat hebat dalam relung hatinya. Bahkan, ia menarik nafas dalam-dalam dahulu sebelum menjawab pertanyaan Alifia.
“Tentu saja perasaan seperti itu fitrah...bahkan itu merupakan anugerah dari Allah SWT. Namun, sesuatu yang fitrah itu, harus tetap disikapi dengan perilaku yang fitrah juga, mengungkapkannya pun harus dengan cara yang fitrah.....tidak perlu dengan berkata langsung, cukup curhat dengan Sang pemilik hati, Allah Subhanahu wata'ala, insyaAllah perasaan kalian akan tetap terjaga...” Yusuf mengamini ucapannya.
Dan maksud dari sms itu, adalah karena Alifia merasa sedih atas pengunduran diri Yusuf dari ketua UKKI. Dua hari sebelumnya, Alifia mendengar cerita dari Nana, adik kelasnya, tentang hubungan Yusuf dan Dilla, Adilla Paradissa, yang tak lain adalah teman seangkatannya, tetapi beda kelas. Cerita tentang mereka pun juga sudah terdengar oleh Fitria.
“Jadi semua orang tahu? Hanya aku yang belum tahu?!, Astaghfirullah, apa maksud kak Yusuf memproklamirkan hubungannya kepada khayalak ” Alifia meratap dengan tutur halusnya.
“Jangan su’udzon dulu Lif....mungkin itu cuma fitnah.. mana mungkin kak Yusuf melakukan itu....” ucap Fitria menenangkan sahabatnya.
“Sebaiknya, kamu pastikan dulu berita itu, tanyakan pada kak Yusuf langsung, bukankah ia masih menjadi sahabatmu?, aku yakin, kamu tidak ingin melihat sahabatmu difitnah bukan?”
Di Bilik Mushalla bagian dalam, tempat konsultasi antara akhwat putri dengan ustadz UKKI, pukul 4 sore. Alifia memutuskan untuk berbicara kepada Yusuf tentang berita yang ia dengar tadi siang. Keduanya dipisahkan oleh sekat pemisah yang terbuat dari selambu gelap.
“Jadi benar Kak Yusuf berpacaran dengan Dilla? Atau itu semua hanya fitnah?” tanya Alifia pelan. Yusuf tersenyum, ia tertunduk dan memulai ceritanya.
“Begini ceritanya Lif, sejak mengenal Dila, beberapa bulan yang lalu, saya memang menaruh hati padanya. Dia begitu anggun dan bersahaja. Dia telah mencuri hati saya....”
Dada Alifia sesak, mendengar kejujuran pujaannya, namun, ia mencoba bersikap biasa saja, menahan rasa.
“Lalu, saya mencoba mendekatinya, memberi perhatian-perhatian kecil, namun, tetap tahu batas-batasnya....Alhamdulillah, dia merespon saya, kami akhirnya berteman dekat....tentunya, saya sangat senang sekali...namun, saya tetap minta kepadanya untuk merahasiakan hal ini, demi agama dan tanggung jawab saya sebagai ketua UKKI ..”
“Tapi seiring berjalannya waktu, Adilla berkata jujur kepada saya, rupanya ia masih berharap kepada mantan kekasihnya yang akan datang melamarnya....Akhirnya, saya mundur, saya memutuskan untuk menjauh darinya....”
“Lalu mengapa beritanya sampai melebar seperti itu kak?” tanya Alifia keheranan
“Mungkin, ada yang tidak menyukai saya, dan mencoba memfitnah saya, saya pasrah Lif....” suara Yusuf lemah, sedih.
"Lantas kenapa Kak Yusuf tidak memperjuangkan dia kalau memang benar-benar cinta?" Alifia bingung menata perasaannya yang penuh emosi. Yusuf terheran-heran dengan tingkah lakunya.
"Lif, saya sudah menemui orang tua Dilla langsung dan berniat melamar, namun orang tuanya serta merta menolak. Jawaban yang sama dari Dilla beberapa hari kemudian. Lalu, apakah saya harus tetap maju tanpa rasa malu? Saya pun masih punya harga diri Lif!" Yusuf menjelaskan semuanya, dengan kalimat yang lembut. Alifia memandangnya sekilas, kemudian pamit duluan karena telah kehabisan kata-kata, mau membalas penjelasan Yusuf dengan pertanyaan apa lagi?
Sore itu, perbincangan keduanya hanya sampai disitu. Namun, Alifia tak ingin semua berakhir begitu saja. Tidak masalah jika sampai kapan pun Yusuf tak memahami perasaannya, tetapi ia bertekad untuk memperjuangkan nasib pemuda itu, agar dibersihkan namanya, dari fitnah yang kejam.
Esoknya, Yusuf memutuskan untuk mengundurkan diri dari ketua UKKI, dewan pengurus UKKI pun menerima pernyataan pengundurannya. Mendengar berita itu, air mata Alifia menetes pilu. Kawan kebanggaannya dibuat malu didepan khayalak. Sungguh terkutuk pembuat fintah itu!!, Astaghfirullah.
Dua hari kemudian, setelah kuliah selesai, Alifia buru-buru meninggalkan kampus, seperti ada urusan penting.
“Maafkan saya ukh.....saya tidak bermaksud buruk kepada kak Yusuf....saya sangat menghargai dan menghormatinya, namun, memang benar jika saya tidak bisa menerimanya lebih dari sekedar teman...” Adilla menunduk didepan Alifia. Mereka mengatur janji untuk bertemu di cafe belakang kampus.
“Lalu siapa yang menyebarkan berita itu?, apa anti tidak kasihan pada kak Yusuf sekarang?, dia menanggung malu.....mohon kejujurannya....” Alifia memelas dengan raut sedih.
“Saya sahabatnya, saya percaya pada kak Yusuf, dia mungkin seperti itu, menyebarkan fitnah atas dirinya sendiri” Adilla terdiam, ia merasa iba pada tatapan melas Alifia.
“Maafkan saya....Sesungguhnya, saya sendiri yang menyebarkan fitnah itu.......” ucap Adilla pelan.
“Astaghfirullah...” seru Alifia terkejut.
“Waktu itu, kak Yusuf pernah mengirim puisi islami lewat sms kepada saya, dan tanpa disengaja sms itu terbaca oleh teman-teman saya, karena waktu itu handphone saya dipinjam oleh teman-teman....lalu teman-teman menyangka kalau saya berpacaran dengan kak Yusuf, padahal itu tidak benar, teman-teman tidak percaya dan akhirnya menyebarkan gosip itu.....”
“Saya tahu, pasti kak Yusuf benci kepada saya sekarang, mohon disampaikan permintaan maaf saya pada kak Yusuf, Alifia...”
Alifia pulang dengan tenang, ia sudah membuat persetujuan dengan Adilla untuk menemui dewan pengurus UKKI besok pagi, menceritakan kejadian yang sebenarnya. “Alhamdulillah” Ucap Alifia dalam hati. Tanpa tahu, jika sedari tadi Yusuf mengikuti dan mengawasinya, tentunya atas pemberitahuan Fitria. Senyum simpul terukir di wajah Yusuf, sekarang ia tahu, siapa yang memang benar-benar pantas untuknya.
No comments:
Post a Comment