Halaman

Wednesday, February 25, 2015

cant it be me?

"Can't it be me?", "Why you didn't considering me?"
Dua pertanyaan di atas akan kita temui ketika kita mengalami penolakan dari orang yang menjadi tujuan kita atas segala yang telah kita lakukan.

Pernahkah anda mengalami penolakan?



Sebut saja namanya K, dia merupakan sosok wanita masa kini yang sedang berada dalam masa penantiannya. Usia 25 tahun membuat dia semakin bertanya-tanya, mengapa dia harus melakukan penolakan berkali-kali dan mengalami penolakan berkali-kali pula? Memang benar, aksi sama dengan reaksi. Untuk setiap hal yang kita lakukan pasti ada balasannya bukan?. Namun, bukan itu yang menjadi patokannya.

Bukan berarti ketika kita memberikan suatu sikap penolakan terhadap orang lain kemudian Allah nyata-nyata membalas penolakan tersbut dengan hal yang setimpal atau lebih berat.

"Memangnya dia, si K, mengalami penolakan dalam hal apa?"

"Apakah dalam hal kehidupan sosial? Atau dalam bidang pekerjaan yang digeluti? atau dalam kisah yang paling klasik yang disebut CINTA?"

Wah, penulis sungguh tahu, pasti hal klasik yang satu itu bukan? Karena ketika orang-orang mengalami penolakan dalam hal yang paling klasik itu, maka dampak terbesarnya bukan hanya bersemayam di jiwa saja, namun fisik juga terkena serangannya.

"Ah, memangnya ditolak berapa kali sih?"

Bisa jadi penolakan yang dialami oleh penulis lebih banyak berkali lipat dibanding dengan yang dialami si K.

K hidup dengan cara yang sangat mudah. Dia tidak sederhana, tidak juga tampil mewah. Dia bukan sosok wanita yang cantik, namun disebut jelek juga tidak. Tingginya semampai, langsing, bahasa tubuhnya jelas. Kalau marah wajahnya akan langsung terlihat bermuram durja. Kalau sedang dilanda bahagia, wajahnya akan tersenyum cerah ceria sepanjang hari, persis seperti orang gila.

"Lalu mana kisah cintanya?"

K pertama kali mengenal perasaan jatuh cinta ketika usia SMP. Dia jatuh cinta kepada teman sekelasnya. Perasaan cinta itu bertahan di hatinya hingga SMA. Namun, dia tidak pernah mendapatkan balasan dari perasaan cinta tersebut, juga tidak mendapatkan penolakan. Kenapa? Karena dia tidak pernah mengungkapkannya.

Masa SMA nya berlalu dengan lancar. K tumbuh menjadi sosok siswi yang tergolong cerdas, good looking, baik hati pula. Nah, teman laki-laki yang mana yang tidak merasakan perasaan suka padanya? Yang mengenalnya dengan baik tentu akan jatuh cinta. Jelas, beberapa teman laki-lakinya yang beberapa dari mereka disebut K sebagai sahabat laki-laki terbaik, satu persatu mulai menyatakan perasaannya kepada K.

Apa yang K lakukan? Dia menolak seluruh pernyataan tersebut!

"Kenapa?"

Karena K tidak pernah merasakan perasaan yang sama dengan apa yang dirasakan beberapa teman laki-lakinya. This is called "Unrequited Love"

SMA berlalu menuju tantangan yang lebih berat, proses kuliah. K berhasil mewujudkan impiannya dengan berkuliah di salah satu jurusan terfavorit di salah satu kampus di Surabaya. Disinilah kisah cintanya berlanjut, dia jatuh cinta kepada orang asing.

"Orang Asing?"

Ya, seorang laki-laki yang bukan temannya, bukan teman sekelas di kampusnya, bukan pula mahasiswa yang berkuliah di kampusnya.
Orang asing tersebut-lah yang mengenalkan kepada K perasaan-perasaan yang rumit. Cinta, benci, dan balas dendam!

"Balas dendam? Apa terjadi sesuatu?"

Tentunya! K mengalami pengkhianatan untuk pertama kali dalam hidupnya oleh orang yang paling dikasihinya. Kekasih atau disebut pacar.
Kekasihnya, ketika sedang menjalin hubungan cinta dengannya, ternyata juga menjalin hubungan cinta dengan sahabat K sendiri!
Sempurna!

Kisah cinta hancur, persahabatan pun hancur. Itulah akibat yang ditimbulkan oleh suatu pengkhianatan.

Waktu berlalu, K pun belajar menerima kejadian tersebut. Namun, kesembuhan hati tidak pernah sempurna. Selalu puing-puing keretakannya ada yang tetinggal, menyisakan luka.

K kemudian menjalin hubungan dengan orang asing yang lain. Namun kali ini tidak sepenuhnya asing. Ada hal-hal misterius yang mendekatkan mereka. Suatu kabupaten B. Ah, setiap kali K membicarakan kabupaten tersebut, dadanya berdebar kencang. Ada penyesalan yang mendalam di tiap debarannya.

"Penyesalan?"

dengan jujur K menyatakan kepada dunia bahwa dia menyukai laki-laki dari kabupaten B tersebut. Laki-laki tersebut juga mengenal baik kakak K, yangt tidak lain adalah orang yang dikirim Allah untuk membantu laki-laki tersebut menjemput kesuksesannya. 2 tahun bekerja di Ibu kota dengan impian yang tidak terwujud, kontrak kerja tidak diperpanjang, dipulangkan ke kabupaten asal. Waktu berjalan dan K punya andil dalam kesuksesan laki-laki tersebut meraih kesuksesannya yang kedua. Rezeki tidak pernah kemana. Entah kemudian K benar-benar tidak pernah mengerti, mengapa Allah mendekatkan mereka di kabupaten tempat K lahir hingga tumbuh dewasa namun tidak pernah menyatukan ikatan jodoh mereka?

"Mungkin K dan laki-laki tersebut tidak jodoh, jalan hidup mereka beririsan, namun itu tidak lantas berarti mereka berjodoh!"

Laki-laki tersebut pernah menunggu K, namun K tidak pernah memberikan jawaban.

"Lantas sebenarnya siapa yang melakukan penolakan? K atau laki-laki kabupaten B tersebut?"

K tidak tertarik untuk menjawabnya.

Tahun-tahun perjuangan akhir kuliah berlalu begitu saja, banyak kisah lucu dan emosional yang telah dialami K. Penolakan, makian, hujatan dan sebagainya dia terima karena terlalu bercanda dengan kisah cintanya. Tidak masalah, itu hanya intermezzo sejenak bagi K. Dia cukup tersenyum kecil jika waktu mengingatkannya ke masa-masa itu.

K berhasil mendapatkan pekerjaan tetap, memperoleh penghasilan yang tetap pula meski tidak begitu besar jumlahnya.

"Apa pekerjaan K?"

Pekerjaan yang menjadi favorit para calon mertua, menurut suatu riset. Ah, namun hal tersebut bukan patokannya ternyata. K tetap melajang. K tidak tertarik untuk menjadi menantu orang.

"Mengapa?"

Perasaan menggebu-gebu untuk segera menikah hanya bertahan setahun setelah K menerima pekerjaan tetap. Tidak sedikit dari rekan-rekan kerjanya mengharapkan dia agar berjodoh dengan adiknya/kakaknya, adik sepupunya/kakak sepupunya, adik iparnya/kakak iparnya, atau bahkan berjodoh dengan teman terbaik mereka. K merajuk kepada ayahandanya agar memberikan izin kepadanya untuk menikah. Namun K, tidak pernah berhasil.

K merasakan lelah. K berusaha keras untuk mematikan tombol perasaan cintanya setahun ini.

K lelah melakukan penolakan-penolakan. K pun lelah menjadi objek penolakan.

K mengharapkan penerimaan, yang tulus..

"Semoga Allah, segera mengirimkan laki-laki yang tulus untukmu, K!"


Notes : Judul tulisan ini merupakan salah satu line percakapan drama korea "Healer"

No comments:

Post a Comment